Sabtu, 22 Juli 2017

Little Photon:Journey to The Edge of Universe (Part 8)

Part 8: Markas Besar

Akhirnya photon dan grup yang menyambutnya pun sampai ke pintu gerbang markas besar. Di sana ada dua penjaga.

"Kata kunci", salah satu penjaga berkata pada pimpinan rombongan.

Pimpinan rombongan lalu berjalan mendekati pintu.

"Eehhmmm...... Hululalala-hulalahuhulahula-halaulalalulalulalalala!!!!!!"

Selesai mengucapkan kata kunci, pimpinan rombongan menunggu. Tidak berapa lama kemudian terdengar respon dari dalam gerbang.

"Kata kunci salah. Silahkan ulangi. Tersisa dua kesempatan lagi".

"Apa? baiklah aku ulangi. Hululalala-hulalahuhulahula-halaulalalulalulalalala!!!!!!" ketua rombongan kembali mengucapkan kata kunci.

".................."

"Kata kunci salah. Silahkan ulangi. Tersisa satu kesempatan lagi", respon yang sama kembali diberikan.

"Hei, apa yang terjadi? kemarin aku masih bisa menggunakan kata kunci ini", ucap ketua rombongan kesal.

"Penjaga pun merespon: "Tadi sebelum kalian datang, sistem keamanan pintu gerbang mengalami kerusakan. Jadi oleh tim pemelihara aset pintu gerbang diprogram ulang. Mungkin saja kata kuncinya ikut terprogram ulang".

"Kenapa kalian tidak mengatakannya sejak awal padaku. Apa kata kunci yang baru?"

"Kami tidak tahu", jawab penjaga.

"Merepotkan saja", ketua rombongan kemudian terlihat mengambil sesuatu dari dalam tubuhnya. Setelah dikeluarkan, ternyata yang dia ambil adalah kunci. Dia pun menggunakan kunci tersebut untuk membuka pintu gerbang, dan berhasil.

"Sejak awal aku memang tidak begitu percaya sistem keamanan otomatis ini, jadi aku selalu membawa kunci darurat".

"Baiklah, silahkan masuk". Rombongan pun masuk, termasuk photon.

Sesuai namanya, markas besar tersebut sangat besar dan luas. Namun anehnya hampir tidak ada apapun selain gambar photon-photon yang berjejer rapi pada dinding bangunan.

"Mereka siapa?" tanya photon penasaran.

"Mereka adalah para photon yang sukses melaksanakan misi mereka dan kembali", jawab ketua rombongan.

"Wooowwww.... sebanyak ini?"

"Ya. Gambarmu juga akan terpasang jika kau berhasil melaksanakan misimu.".

Sampailah mereka di suatu ruangan besar.

"Tunggu di sini. Sebentar lagi Ketua grup akan hadir".

Photon sedikit gugup. Dia membayangkan Ketua grup sebagai partikel photon yang sangat besar, garang.

Tidak berselang lama, terdengar suara teriakan.

"Ketua Umum akan memasuki ruangaaaannnn.....!!!"

Begitu berhenti suara tersebut, terlihat satu partikel photon bergerak menuju mimbar yang dikhususkan untuk Ketua Umum. Setelah partikel tersebut sampai, partikel tersebut berteriak.

"Ketua Umum telah hadir di ruangaaaannnn...!!!".

Rupanya Ketua Umum sendiri yang melakukan teriakan.

Photon yang menyaksikan prosesi kedatangan Ketua Umum pun terheran-heran.

"Mengapa dia berteriak begitu?"

"Entahlah. Sejak aku bergabung dengan grup ini, Ketua Umum sudah seperti itu", jawab salah satu photon yang berada di samping photon. "Aku dengar rumor kalau dulu Ketua Umum pernah terperangkap dalam kotak di suatu planet, bumi kalau tidak salah ingat. Beliau terjebak cukup lama dalam kotak tersebut. Hampir setiap hari Beliau selalu mendengar kalimat 'Paduka Raja akan memasuki istana kerajaan', atau semacam itu. Karena begitu sering mendengar ucapan tadi, Beliau pun menjadi terpengaruh. Begitu yang kudengar". Lanjutnya.

"Ya benar. Rumor lain menyebutkan kalau kotak yang memerangkap Ketua Umum disebut televisi", sahut photon lain.

"Hei kalian, cukup bicaranya. Ketua Umum akan memulai pidato penyambutan", ucap Ketua Rombongan kepada photon dan rekan bicaranya.

Ketua Umum pun mulai berbicara.

"Tanpa banyak berbasa-basi, sebagai Ketua Umum Grup Photon, aku nyatakan selamat bergabung untuk para anggota yang baru. Dengan ini kalian dinyatakan sah tergabung ke dalam Grup photon ini. Kalian akan diberi nomor induk. Nomor induk ini akan menjadi identitas kalian."

"Demikian pengumuman dariku.Silahkan berpesta", lanjut Ketua Umum.

Suara riuh pun muncul. Pesta penyambutan anggota baru grup photon dimulai.

Kamis, 20 Juli 2017

Little Photon: Journey to The Edge of Universe (Part 7)

Part 7: Penyambutan

Kurang lebih tiga hari telah berlalu, photon masih juga belum menemukan tempat yang dimaksud oleh Lithium.

“Di mana gerangan tempat yang dimaksud tuan Lithium, sudah cukup lama aku mencari tetapi masih belum bertemu juga”, gumam photon dalam hati. “Apakah tuan Lithium membohongiku? Tapi untuk apa, tidak ada motif. Lagipula beliau tidak terlihat sebagai partikel pembohong”.


Baru saja berkata begitu, tiba-tiba saja photon dikejutkan oleh segerombolan photon lain yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.

"Yeeyyy... anggota baru!!" teriak salah satu photon.

"Selamat datang, selamat bergabung dengan kami!!" teriak photon yang lain.

Photon tidak dapat memahami situasi yang dialaminya saat ini. Bingung sebingung-bingungnya. Begitu banyak pertanyaan yang tidak dapat dia temukan jawabannya sampai-sampai dia lupa apa yang menjadi pertanyaannya. Photon hanya bisa diam dalam kebingungan.

Melihat reaksi photon yang terdiam begitu, salah satu photon menghampirinya.

"Hahaha, kau pasti bingung. Itu wajar. Semua rekan-rekanmu ini dulunya juga begitu, penuh kebingungan, hahaha..." kata photon diiringi tawa lepas.

""Apa yang sedang terjadi sekarang ini? aku tidak memahami kelakuan kalian" photon akhirnya dapat berkata-kata lagi walaupun tetap masih dalam kebingungan.

"Tenang, ini semua adalah perayaan kehadiranmu sebagai anggota baru grup kami." Jawab photon.

"Hah? aku tidak merasa mendaftar untuk menjadi anggota grup kalian"  balas photon.

"Hahaha.. tidak photon kecil. Kau mendaftar, hanya saja kau tidak menyadarinya."

"Nanti akan aku jelaskan. Sekarang mari kita pulang ke markas besar dulu." Ucap photon sambil mengajak photon untuk mulai bergerak. "Tidak usah takut, kami rekanmu", lanjutnya.

"Baiklah." Photon pun mulai bergerak bersama grup photon yang mengagetkannya tadi.

"Sambil berjalan, aku akan bercerita sedikit tentang penyambutan tadi. Kami sudah mengikutimu secara diam-diam sejak tiga hari yang lalu, tidak lama setelah engkau memasuki daerah kami."

"Memasuki daerah kalian?" Photon penasaran.

"Ya. Kalau kau lihat grup yang menyambutmu tadi, semuanya adalah photon. Kami hanya menerima photon sebagai anggota karena kita semua memiliki misi yang sama. Kau tahu apa itu?"

"Aku ditugaskan oleh ayahku untuk menerangi alam semesta. apakah itu yang kau maksud?"

"Benar sekali. Kita semua adalah photon, partikel yang memiliki tugas mulia menerangi alam semesta." Jawab photon bersemangat. "Setiap photon memasuki daerah kami memiliki kesamaan. Mereka itu berusaha keluar dari matahari dan berusaha mencari petunjuk jalan. Kau kemari karena diberi petunjuk oleh Lithium kan? dia adalah partikel yang kami sewa untuk memberi petunjuk pada photon-photon terpilih".

"Jadi begitu rupanya."

"Benar. Lithium kami beri tugas untuk menyeleksi photon-photon yang memiliki tekad untuk melaksanakan misi. Namun tidak semua photon yang kemari memiliki tekad yang cukup kuat. Karena itu kami melakukan seleksi lanjutan dengan cara mengikuti photon-photon yang datang secara diam-diam selama 3 hari. Jika mereka tetap mencari keberadaan kami, maka kami akan menyambutnya seperti yang kami lakukan kepadamu. Akan tetapi jika dia berbalik arah dan keluar dari daerah kami, maka kami menganggapnya sebagai photon yang tidak cukup memiliki tekad."

"Jadiaku lolos seleksi kalian?" tanya photon.

"Benar sekali saudaraku, kau lolos secara memuaskan. Karena itu sekarang kau telah menjadi anggota grup kami walaupun belum resmi. Peresmian keanggotaanmu akan dilakukan di markas besar".

"Baiklah" jawab photon.

"Dengan menjadi anggota, kau berhak mendapat informasi terkait pelaksanaan misimu. Dan yang lebih menarik lagi, kau tidak akan sendirian dalam melaksanakan misimu."

"Benarkah?" photon tiba-tiba menjadi semangat. Sudah cukup lama aku melakukan perjalanan sendiri. Kedua adikku, neutrino, yang seharusnya menjadi teman perjalananku sudah terpisah dariku bahkan ketika kami baru memulai perjalanan."

"Hahaha.. kuberi tahu satu hal wahai photon saudaraku. Kita adalah partikel tercepat di alam semesta. Jika kau bepergian dengan partikel yang bukan photon, partikel tersebut tidak akan pernah bisa mengikutimu. Kau hanya dapat pergi dengan sesama photon.".

"Aku baru mengetahui hal ini".

"Masih banyak hal yang perlu kau pelajari, dan semua itu akan kau dapatkan di markas besar nanti."

"Baiklah, aku menjadi bersemangat", ucap photon.

Mereka pun melanjutkan perjalanannya menuju lokasi yang disebut markas besar.

Jumat, 14 Juli 2017

Benarkah Anda Bekerja?


1. Intro

Di suatu pagi yang gelap, gerimis, lembab, suram, melankolis, menyedihkan, gak ada yang bikin semangat lah pokoknya,  kokok ayam yang sedang bengek membangunkan Photon (nama samaran, bukan nama sebenarnya). Terkejut dia ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 7.08 pagi. Lebih terkejut lagi dia ketika melihat langit di luar masih gelap. Namun setelah seluruh nyawanya kembali, diapun sadar kalau jamnya mati mati sejak 3 hari terakhir. Berdasarkan penerawangannya, disimpulkan bahwa waktu masih berada di jam 5.12 plus minus 23 detik. Masih dalam keadaan mengantuk, Photon mengambil handuk dan bergerak menuju kamar mandi. Ritual harian dimulai dengan "BAB" alias "Buang Air Besar". Photon pun berjongkok di atas kloset. Selama proses BAB Photon sempat tertidur kurang lebih 15 menit, dan tersadar ketika keseimbangannya hilang dan hampir jatuh. Photon pun bangkit, namun kakinya kesemutan karena terlalu lama berjongkok. Photon pun mulai mandi sambil menahan sakit akibat kesemutan di kakinya. Selesai mandi, Photon mengenakan pakaian kemeja putih yang telah disetrika 2 hari yang lalu, dipadankan dengan dasi kupu-kupu berwarna jingga dan celana jeans pensil ketat. Setelah selesai berdandan, Photon pun berangkat kerja, tapi sholat shubuh dulu. Sepuluh jam berlalu, Photon telah kembali ke rumah.

2. Definisi Kerja

Ya, benar. Intro di atas adalah cerita fiktif-fiktif nyata yang sangat sedikit kaitannya dengan bagian ini, ataupun bagian-bagian selanjutnya. Jadi mari lupakan kehidupan Photon dari fokus bahasan dan beranjak ke pembahasan definisi kerja.

Kerja didefinisikan sebagai perkalian titik antara vektor gaya dengan vektor perpindahan. Jika kerja dilambangkan dengan W,  gaya dilambangkan dengan F, dan perpindahan dilambangkan dengan S, maka kerja dapat dinyatakan sebagai:


W = F.S

Perpindahan itu sendiri didefinisikan sebagai perubahan posisi suatu titik relatif terhadap acuan tertentu. Sedangkan gaya didefinisikan sebagai perubahan momentum per satuan waktu dan momentum sendiri didefinisikan sebagai perkalian antara massa dengan kecepatan. Menggunakan aturan rantai kita juga dapat menyatakan gaya sebagai perkalian antara massa dikalikan dengan perubahan kecepatan per satuan waktu ditambah dengan kecepatan dikalikan dengan perubahan massa per satuan waktu. Karena setiap benda yang memiliki kecepatan pasti memiliki energi kinetik, dan energi kinetik bersama-sama dengan energi potensial termasuk ke dalam energi mekanik atau sebagian orang menyebutnya sebagai energi saja, maka kerja memiliki hubungan yang sangat erat dengan perubahan energi. Dikarenakan juga energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan sebagaimana dinyatakan dalam hukum kekekalan energi mekanik, maka kerja juga dapat dinyatakan sebagai proses konversi energi dari satu bentuk menjadi bentuk yang lain.

Anda tidak salah baca. Kerja adalah proses konversi energi dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Kerja yang kita lakukan untuk mencari uang juga termasuk ke dalam definisi ini. Jangan salah, uang adalah salah satu bentuk energi. Itu juga yang menyebabkan kuliah "Fisika Ekonomi" bukanlah hal yang di luar kewajaran. Jika selama ini anda mengira bahwa ekonomi tidak memiliki kaitan dengan fisika, maka anda salah. Selamat.

Kerja dapat bernilai positif dapat juga bernilai negatif, dan definisinya bergantung pada sudut pandang pengamat. Dalam kasus kerja manusia, kerja positif adalah jika manusia lebih banyak menerima energi daripada mengeluarkan energi, Sebaliknya, kerja negatif apabila manusia lebih banyak mengeluarkan energi daripada menerima energi.

3. Tujuan Melakukan Kerja

Pernahkah anda berpikir, apa yang menjadi tujuan paling dasar anda bekerja? mengumpulkan uang? mengikuti hasrat hati? Selamat berpikir. Yang pasti, dua hal yang saya sebutkan tadi bukanlah tujuan paling mendasar seseorang bekerja. Setiap orang, bahkan setiap makhluk hidup dan yang pernah hidup memiliki tujuan dasar bekerja yang sama, yaitu mengkonversi energi yang dipancarkan matahari dan bintang-bintang lainnya (dapat diabaikan relatif terhadap matahari) menjadi energi kinetik (energi gerak) dirinya. Sederhananya, makhluk hidup bekerja agar dapat bergerak. jika anda sudah tidak lagi bergerak, alias mati, alias dead, anda tidak perlu lagi bekerja.

4. Tanda Bahwa Anda Bekerja

Mengulang definisi kerja yang saya tulis di bagian 2,kerja merupakan perkalian antara gaya dengan perpindahan, dan gaya merupakan perkalian antara massa dengan perubahan kecepatan per satuan waktu ditambah dengan kecepatan dikalikan dengan perubahan massa per satuan waktu. Ada beberapa tanda yang dapat dijadikan bukti bahwa anda benar bekerja.

- Ada perpindahan. Ini sangat jelas, dapat dilihat dari definisi kerja.

- Ada pertambahan kecepatan tiap selang waktu tertentu.

- Ada pertambahan volume.

- Ada pertambahan massa.

- Ada penumpukan energi potensial.

Kerja yang ditandai dengan perpindahan, ini berkaitan dengan pergerakan anda menuju visi. Walaupun lambat, sepanjang apa yang anda kerjakan membuat anda semakin dekat dengan visi anda, maka maka anda tergolong orang yang bekerja.

Kerja yang ditandai dengan penambahan kecepatan tiap selang waktu tertentu, atau bahasa lain yang lebih umum adalah percepatan, berarti fase kerja anda semakin lama semakin cepat. Mungkin saja anda hanya mengalami perpindahan yang sangat sedikit, atau meminjam istilah paragraf sebelumnya, tidak ada progress, namun sepanjang anda mengalami percepatan, anda masih terhitung melakukan kerja. Percepatan di sini berkaitan dengan ilmu dan pengalaman.

Kerja yang ditandai dengan pertambahan volume, ini berkaitan dengan jumlah transaksi bisnis yang anda lakukan. Kerja yang anda lakukan membuat anda semakin dikenal masyarakat, semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari anda dan membutuhkan anda.

Kerja yang ditandai dengan pertambahan masa, ini berkaitan dengan bertambahnya aset yang anda miliki. Jika apa yang anda lakukan menyebabkan aset anda bertambah, maka apa yang anda lakukan tergolong ke dalam kerja.

Dan terakhir, kerja yang ditandai dengan penumpukan energi potensial, ini tidak lain adalah berkaitan dengan jumlah uang yang anda kumpulkan. Jika kegiatan anda menyebabkan uang anda bertambah, maka yang anda lakukan itu tergolong ke dalam kerja.

5. Bekerja Memerlukan Energi

Untuk dapat melakukan kerja, diperlukan energi. Hal ini berdasarkan pada hukum kedua termodinamika yang menyatakan bahwa tidak ada mesin yang mampu mengubah energi 100%. Jika anda ingin mengubah energi hingga 100%, maka total energi yang terlibat dalam proses pasti lebih besar dari 100%, dan ini berasal dari energi anda, dan ini adalah bentuk lain dari hukum kedua termodinamika yang menyatakan bahwa perubahan entropi alam semesta selalu lebih besar dari nol.

Jika anda mengubah energi tanpa mengeluarkan energi, maka anda tidak lah bekerja. Yang sebenarnya bekerja adalah orang lain, yaitu mereka yang mengeluarkan energi. Berdasarkan pengertian ini, maka seorang rentenir yang memperoleh penghasilan dari bunga hutang tidak dapat dikatakan bekerja, dan rentenir itu sendiri tidak dapat dikatakan sebagai pekerjaan.

Bagaimana dengan ibu kos? apakah ibu kos bekerja? ya ibu kos bekerja. ibu kos mengonversi energi yang dimilikinya menjadi bangunan. Bangunan tersebut melindungi penghuninya dengan cara menyerap energi yang seharusnya mengenai penghuni. Energi yang seharusnya penghuni keluarkan untuk melindungi dirinya dari paparan energi yang tidak diinginkan, diubah menjadi energi dalam bentuk uang, dan energi dalam bentuk uang ini dialirkan ke ibu kos.

6. Konversi Mengharuskan Perubahan Jenis atau Sifat

Karena kerja adalah proses konversi energi dari satu bentuk ke bentuk yang lain, maka agar dapat dikatakan bekerja, perubahan bentuk energi harus ada dalam proses kegiatan yang anda lakukan. Contoh sederhana adalah pedagang bakso. Kegiatan yang dilakukan mengonversi energi dalam bentuk bakso menjadi energi dalam bentuk uang. Jadi berjualan bakso termasuk bekerja.

Ambil lagi kasus ibu kos. Katakanlah ibu kos tidak tahu-menahu masalah pembangunan kos-kosan miliknya. Dia hanya memberikan sejumlah uang untuk membangun. Artinya ibu kos melepas mengonversi uang menjadi uang yang lebih banyak. Bukankah tidak ada perubahan? oh tidak, sebenarnya ada dua proses konversi energi di sini.  Pertama konversi uang menjadi bangunan, dilakukan oleh ibu kos, kedua adalah konversi energi kimia menjadi uang, dilakukan oleh penyewa kos.

Sedangkan untuk rentenir, tidak ada proses konversi energi yang dilakukan olehnya. Semua proses konversi energi dilakukan oleh orang yang meminjam uang si rentenir. Keuntungan yang diperoleh seorang rentenir dari bunga uang pinjaman bukanlah akibat kerja yang dilakukan olehnya,  melainkan kerja orang lain yang dia ambil, mirip seperti parasit.

Seorang investor yang menginvestasikan uang yang dimilikinya pada seseorang untuk dikelola juga masuk kategori kerja. Sang investor mengubah uang yang dimilikinya menjadi aset perusahaan si penerima dana. Selanjutnya, si penerima dana mengeluarkan energi untuk mengaktifkan aset dan energi yang dikeluarkannya kembali menjadi uang. Uang hasil konversi aset inipun mengalir ke investor dan penerima dana. Jadi baik investor maupun penerima dana sama-sama melakukan kerja.

7. Penutup

Dan Photon pun istirahat karena besok masih hari kerja.

Kamis, 13 Juli 2017

Little Photon: Journey to The Edge of universe (Part 6)

Part 6: Deceived

Photon terus melaju hingga satu panggilan menghentikannya.

“Hei kau, wahai photon kecil. Apa yang engkau lakukan?”

Photon berhenti, mengamati sekeliling. Pandangannya tertuju pada suatu titik. Di sana tampak satu partikel yang sedang melambai, mengisyaratkan photon untuk mendatanginya.  Photon pun bergerak menuju partikel tersebut.

“Engkau memanggilku Tuan partikel? Ada apa gerangan?”, tanya photon.

“Aku hanya ingin bertanya, apa yang sedang engkau lakukan?”

“Aku sedang berusaha keluar dari matahari. Aku diberi tugas mulia oleh ayahku, menerangi alam semesta. Namun agar dapat melakukannya pertama-tama aku harus keluar dari matahari. “ jawab photon.

“Aku tahu itu. Semua photon terlahir dengan tujuan menerangi alam semesta. Yang ingin kutanyakan, mengapa kau bergerak di lintasan yang sama terus. Aku sudah mengamatimu melewati tempat ini setidaknya lebih dari segoogol kali. Kau tahu satu googol? sepuluh pangkat seratus”.

“Benarkah itu? Aku tidak menyadarinya” , ucap photon.

“Tentu saja kau tidak menyadarinya. Kau tidak mengamati dirimu bergerak. Akulah yang mengamatimu.”, balas partikel.

“Tapi aku tidak merasa mengubah arah gerakku. Aku bergerak lurus, dan beruntung tidak ada satu penghalang pun selama perjalananku hingga saat ini, hingga akhirnya kau memanggilku.”

“Tidak wahai photon kecil. Kau tidak bergerak lurus, melainkan bergerak berputar mengelilingi inti matahari. Kau tidak menyadarinya”.

“Benarkah itu tuan?”


“Untuk apa aku membohongimu?”, ucap partikel.”Yang kau alami ini adalah ulah graviton. Beruntung kau tidak sampai ditarik ke pusat matahari dan hanya dibuat berbelok saja. Sekali kau tertarik ke pusat matahari, kau tidak akan pernah bisa keluar dari sana selamanya.”

"Jadi selama ini aku mengikuti arah salah. Tuan Neutron ternyata membohongiku."

"Oh, jadi Neutron yang menunjukkan arah ini padamu? aku tidak yakin kalau dia membohongimu. Dia itu sangat jujur. Dia merupakan partikel ternetral yang pernah kujumpai. Boleh aku tahu apa yang dikatakannya kepadamu?, tanya partikel pada photon.

"aku bertanya kepadanya, arah mana yang harus kutuju agar dapat keluar dari matahari. Dia mengatakan 'Ikuti saja arah itu, maka kau akan baik-baik saja', kurang lebih begitu", jawab photon.

"HHmmm... secara teknis dia tidak berbohong. Dia memberikan informasi yang benar padamu, hanya saja informasi yang diberikannya tidak menjawab pertanyaanmu. Coba perhatikan dirimu, kau baik-baik saja bukan?", partikel memberi penjelasan pada photon.

"Wah benar juga, tidak terpikirkan olehku. Akus sudah berpikiran buruk pada tuan Neutron".

"Apa kau membayarkan sejumlah energi pada Neutron?" tanya partikel lagi.

"Tidak tuan. Aku tidak memiliki apa yang kau sebutkan tadi", jawab photon.

"Jelas saja Neutron tidak mau menjawab pertanyaanmu. Dia itu mata energian, tidak pernah mau memberikan informasi secara gratis. Tapi dia juga bukan partikel jahat yang tega mencelakakan partikel lain."

"Jadi begitu...", photon berkata dengan suara yang cukup rendah.

"Sebenarnya dulu Neutron tidak begitu. Dia punya teman dekat, namanya Proton. Mereka berdua sangat akrab hingga hampir selalu bersama sepanjang waktu.  Pernah suatu ketika mereka pergi ke sebuah pesta, proton minum terlalu banyak sehingga mabuk. Neutron yang berada di dekatnya tidak menghentikannya. Akhirnya terjadilah peristiwa mengerikan itu. Ketika pulang, proton yang dalam keadaan mabuk berat menumbuk partikel karbon yang baru saja lahir, mengakibatkan cacat permanen pada bayi karbon tersebut. Neutron yang saat itu tidak dapat menghentikan temannya ikut dipersalahkan dan diminta untuk membayar denda yang sangat besar. Sejak saat itu Neutron menjadi sangat perhitungan dengan energi"

"Padahal aku tidak bertanya, tapi tuan partikel ini bercerita panjang lebar kepadaku. Mungkin tuan ini mau berbaik hati menunjukkan arah perjalanan yang tepat", photon bergumam dalam hati.

"Kau beruntung aku memperhatikanmu. Aku adalah Lithium. Aku tidak dapat menunjukkan arah yang benar untukmu, tapi aku dapat menunjukkan arah ke suatu lokasi tertentu. Para partikel di sana akan dengan senang hati membantumu keluar dari matahari"

"Wah terima kasih banyak tuan Lithium", jawab photon senang.

"Pergilah ke arah sana. Lokasinya tidak terlalu jauh. Dengan kecepatanmu, kau akan sampai di sana dalam beberapa jam."

"Baik tuan Lithium. Terima kasih banyak atas bantuanmu.".

Photon pun melanjutkan perjalanan ke arah yang ditunjukkan oleh Lithium.

Rabu, 12 Juli 2017

Little Photon: Journey to The Edge of Universe (Part 5)

Bagian 5: Asking Direction


Hampir 3,54 microdetik berlalu sejak photon berbicara dengan karbon bersaudara, namun dia masih tetap berada di posisi yang sama. Bukan untuk menunggu kedatangan neutrino, namun berpikir tentang misinya. Saat ini photon sudah lagi panik seperti saat dia sadar telah terpisah dari saudaranya. Photon sedang memikirkan misinya, dan langkah apa yang akan dilakukannya.

“Jika apa yang dikatakan oleh Tuan Karbon tadi benar, maka pergi bersama kedua saudaraku akan sangat berpotensi membahayakan kesuksesan tugas yang diberikan kepadaku. Dalam kondisi normal saja perlu waktu yang sangat lama untuk dapat keluar dari matahari ini. Apalagi jika rekan perjalananku buta arah, akan memakan waktu lebih lama lagi”, photon berbicara dengan dirinya sendiri. “Apa maksud partikeltua ku menugaskan kedua neutrino untuk menemaniku? Aku tidak mengerti. Jika aku ingat-ingat lagi apa yang dikatakan olehnya saat kami akan memulai perjalanan...”

 “Wahahahahaha...Wahahaha...!!!”

Photon terkejut sendiri.

“Mengapa malah suara menyeramkan Tuan Karbon yang muncul di pikiranku? Bikin kaget saja. Dan karenanya aku jadi melupakan perkataan partikeltuaku.” Photon menggerutu dalam pikirannya.

“Ya apa yang terlupakan biarlah terlupakan. Jika memang sudah tiba waktuku untuk mengingatnya, aku pun akan ingat dengan sendirinya.”Photon mencoba berpikir positif.

“Yang perlu kupirkirkan sekarang adalah hanyalah menyelesaikan tugas mulia yang diberikan kepadaku. Namun sebelum itu aku harus berhasil keluar dari matahari ini”.

Photon pun kembali melanjutkan perjalanannya separtikel diri.

Mungkin sebaiknya aku bertanya pada sesepartikel. Setidaknya aku perlu mengetahui di mana posisiku sekarang”, gumam photon.

Setelah beberapa waktu, photon berhenti di suatu titik. Di sana dia bertemu dengan sebuah partikel. Photon memutuskan untuk bertanya pada partikel tersebut.

“Permisi Tuan Partikel, bolehkah aku bertanya pada anda?” tanya photon pada partikel tersebut.

Namun tidak ada respon dari partikel tersebut. Photon pun kembali mengulang pertanyaannya.

“Permisi Tuan Partikel, bolehkah aku bertanya pada anda?” photon mengulang pertanyaannya.

Mendengar pertanyaan photon yang kedua kali, partikel tersebut lantas memutar badannya sehingga menghadap photon. Partikel tersebut memperhatikan photon sebentar, lantas  berkata:

“Hai bocah, apa tidak ada yang pernah mengajarimu sopan santun? Sebelum bertanya pada seseorang, perkenalkan dulu dirimu.” Ucap partikel tersebut pada photon.

“Oh, maafkan aku wahai Tuan Partikel yang baik.  Namaku adal..” belum selesai photon berkata-kata, partikel tersebut langsung memotong.

“Cukup, tidak penting siapa dirimu. Apa yang ingin kau tanyakan? Cepat tanyakan, aku sibuk”.

“Baiklah.Aku ingin bertanya kepadamu, di manakah posisiku sekarang ini? Jika aku ingin keluar dari matahari, ke arah mana aku harus pergi?” photon mengatakan pertanyaannya kepada partikel tersebut.

“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, apakah kau tidak penasaran pada diriku?” partikel tersebut balik bertanya pada photon.

“Tidak Tuan”, jawab photon polos.

“Apa kau yakin?”, partikel tersebut kembali bertanya.

“Ya Tuan. Aku berkata sejujurnya”, jawab photon.

“Hei bocah, apa kau ingin aku menjawab pertanyaanmu? Jika ya maka ralat jawabanmu. Katakan kalau kau penasaran dan ingin mengetahui jati diriku.” Partikel tersebut berkata pada photon dengan nada sedikit mengancam.

“Baiklah. Aku sangat penasaran dan ingin mengenal dirimu”, ucap photon menuruti keinginan partikel tersebut.

“Hohohoho....baiklah jika kau memaksa. Namaku adalah Neutron. Sudah itu saja cukup. Informasi itu mahal.” Jawab partikel yang mengaku bernama Neutron tersebut.

“Eeehhh... Baiklah” ucap photon. “Jadi sekarang kau mau menjawab pertanyaanku”?

“Apa pertanyaanmu tadi?”

“Aku bertanya tentang..”

“Ya aku ingat. Apa kau pikir aku ini bodoh? Tidak perlu kau ulang pertanyaanmu”. Ucap Neutron.

“Baiklah Tuan. Aku menunggu jawaban.”

“2,3 elektron Volt.” Ucap Neutron.

“Maksud Tuan?” tanya photon tidak mengerti.

“Itu adalah biaya yang harus kau berikan padaku untuk dua pertanyaanmu tadi. Baiklah, satu pertanyaan saja. Satu pertanyaan aku beri secara gratis. Untuk pertanyaan pertamamu, kau sekarang berjarak 23780 km dari pusat matahari.”

“Sekarang bayar dan aku akan menjawab pertanyaan keduamu”.

“Aku tidak memiliki apa yang kau minta tuan”, photon menjawab jujur.

“Apa? Dasar partikel miskin. Jika tidak punya energi jangan bertanya pada orang lain.”

“Tolonglah Aku Tuan Neutron”. Photon memelas.

“Yayaya baiklah. Ikuti saja arah itu, maka kau akan baik-baik saja”. Ucap Neutron sambil menunjuk ke satu arah tertentu.

Tanpa pikir panjang photon langsung bergerak menuju arah tersebut sambil mengucapkan terima kasih pada Neutron.

“Terima kasih Tuan”.

“Ya cepat pergi sana”, balas Neutron.

Photon pun kembali melanjutkan perjalanannya.

124 tahun telah berlalu sejak dimulainya perjalanan photon.
***
363 tahun telah berlalu sejak dimulainya perjalanan photon.
***
1203 tahun telah berlalu sejak dimulainya perjalanan photon.
***
3766 tahun telah berlalu sejak dimulainya perjalanan photon.
***

Dan akhirnya, 13658 tahun sejak dimulainya perjalanan photon, photon masih berjarak 23780 km dari pusat matahari. Selama lebih dari 13 ribu tahun, photon bergerak pada arah tangensial matahari, dan masih meneruskan perjalanannya pada arah itu.

Minggu, 09 Juli 2017

Little Photon: Journey to The Edge of Universe (Part 4)

Bagian 4: Meanwhile


Sementara itu, di suatu titik di dalam inti matahari.

"Kakak? oooiii kakak  photon????"

"Bagaimana ini? kita terpisah dari kakak". Ucap neutrino.

"Ya mau bagaimana lagi. Kakak lajunya sangat kencang. Kita tidak sanggup mengikutinya.", ujar neutrino lain.

"Lalu apa yang mesti kita lakukan? partikel tua kita menugaskan kita untuk menemani kakak photon, tapi kondisinya seperti ini".

"Kita lanjutkan perjalanan saja. Kita berusaha mencari kakak dahulu. Aku yakin kakak telah sadar kalau kita sudah tidak bersamanya lagi. Mungkin dia sedang menunggu kita di suatu tempat".

"Ya aku juga sependapat denganmu. Mari kita lanjutkan perjalanan. Apa kau ingat ke mana perginya kakak photon?"

"Aku tidak yakin, tapi sepertinya ke sana".

"Baiklah, ayo kita berangkat ke  sana, menyusul kakak photon".

Kedua neutrino bersaudara itupun melanjutkan perjalanan mereka, menuju arah yang mereka pikir akan menuntun mereka bertemu photon.

Mereka bergerak menuju pusat matahari.

Sabtu, 08 Juli 2017

Little Photon: Journey to The Edge of universe (Part 3)

Bagian 3: Alone


Photon panik. Hanya sesaat saja setelah perjalanannya dimulai, dia telah terpisah dari kedua adiknya. Dia mengalami dilema, haruskah dia meneruskan perjalanannya, atau haruskah dia berbalik arah dan mencari kedua adik kembarnya itu. Photon tidak yakin akan berhasil menemukan kedua adiknya di tengah kepadatan lalu lintas partikel yang nyaris tidak memiliki celah. Namun dia juga merasa was-was jika harus melanjutkan perjalanannya separtikel diri. Akhirnya dia memilih jalan tengah, menunggu.

Photon pun menunggu, dan terus menunggu sambil memperhatikan sekelilingnya, terutama daerah yang dilaluinya tadi. Namun tidak ada tanda-tanda kedua adiknya. Jangankan tampak, jejak energinya pun tidak terasa mesti hanya sedikit.
Ditengah padatnya lalu lintas partikel, photon melihat sebuah partikel bergerak tepat menuju dirinya. Harapannya sempat naik, namun kembali turun ketika dilihatnya ukuran partikel tersebut jauh lebih besar daripada ukuran kedua adiknya. Setelah beberapa waktu sampailah partikel besar tersebut ke lokasi photon.

“Permisi Pak Partikel Besar, apakah anda melihat dua partikel mungil, kira-kira seukuran satu per tiga milyar dua ratus delapan puluh tiga juta tujuh ratus sembilan puluh empat ribu empat ratus empat puluh lima kali ukuran anda bergerak menuju tempat ini dari arah yang sama dengan anda?” Tanya photon dengan harapan mendapat petunjuk tentang posisi kedua neutrino adiknya.

Partikel besar tersebut kemudian berhenti tepat di depan photon, mengamatinya sejenak, lalu memberikan respon yang benar-benar tidak terduga oleh photon.

“WAHAHAHA.... WAHAHA...WAWAHAHAWAHA...WAHAHAHAHAHAHA....!!!”

Mendapat respon seperti itu, photon terdiam kaku, berpikir sekeras yang dapat dilakukannya, namun tidak berhasil memperoleh terjemahan dari respon yang didapatnya selain “tawa menyeramkan”. Instingnya pun mulai mengambil alih. Photon bergarak mundur secara perlahan menjauhi partikel besar tersebut, takut partikel besar tersebut akan melukai dirinya jika dirinya jika melakukan gerakan yang tiba-tiba.

Melihat photon bergerak menjauh, partikel besar tersebut bukannya pergi, tapi malah mendekati photon.

“WAHAHAHA.... WAHAHA...WAWAHAHAWAHA...WAHAHAHAHAHAHA....!!!”

Kembali partikel besar memberikan respon tawa menyeramkan. Photon pun semakin takut hingga tidak berani bergerak.

“Ampuni saya wahai Tuan Partikel Besar, jangan makan saya, jangan sakiti saya. Saya hanya ingin bertanya kepada Tuan tentang adik saya. Tidak ada maksud lain Tuan” Ucap photon sambil memelas, berharap pertikel besar di hadapannya tidak akan menyakiti dirinya.

Sang partikel besar pun berhenti mendekati photon, namun tidak menunjukkan indikasi dirinya akan pergi dari tempat tersebut. Pandangannya terfokus pada photon dan photon pun menyadari itu.

Tidak berapa lama berselang, datang partikel besar kedua yang sama persis dengan partikel besar pertama. Melihat ada dua partikel besar dihadapannya, photon pun semakin takut.

“Tenang wahai photon kecil, tidak usah takut. Kami tidak akan menyakitimu. Perkenalkan, aku adalah Karbon. Partikel besar yang ada di sampingku ini adalah Karbon. Kami bersaudara. Engkau boleh memanggil kami dengan sebutan Karbon”, Karbon memperkenalkan dirinya.

“Aku sempat memperhatikan percakapan kalian tadi. Dan aku paham kenapa engkau merasa takut dengan saudaraku ini. Bukan hanya engkau yang takut. Beberapa waktu yang lalu saudaraku menghampiri satu partikel Muon dan mencoba berbicara dengannya.  Muon tersebut sangat ketakutan, dia meluruh dan hilang tanpa jejak dalam sekejap”.

“saudaraku ini tidak bermaksud jahat. Sebenarnya dia menjawab pertanyaanmu. Hanya saja dia berbicara dalam bahasa karbon.”

Karbon kembali melanjutkan: “Tidak seperti diriku, saudaraku ini hanya dapat berbicara dengan bahasa karbon. Dia paham pertanyaanmu, namun tidak dapat menjawab menggunakan bahasamu. Dulu ketika dalam kandungan saudaraku ini sungsang, jadi ada sedikit kelainan bawaan.Ditambah lagi beberapa saat setelah dilahirkan dia ditabrak dengan sangat keras oleh partikel proton yang mabuk.”

Mendengar penjelasan tersebut, photon pun lega.

“WAHAHAHAHAHA..??” Tanya karbon kepada saudaranya.

“WAHAHAHAHAHA. WAHAHA..HAHAHAHA.... WAHAHAWAHAWAHA.. WAHAHAHAHAHA... WAHAAAHAHA..!!”.

“Baiklah, aku paham. Biar aku terjemahkan apa yang saudaraku ucapkan kepadamu. Tadi dirimu bertanya tentang kedua adikmu, neutrino kan? Saudaraku menjawab, ‘tidak usah menunggu. Kau tidak akan mungkin bertemu kembali dengan mereka”. Tapi kata saudaraku kau tidak paham, jadi saudaraku kembali mengulang ucapannya kepadamu”.

“Jadi begitu rupanya. Maafkan aku Tuan Karbon, aku telah salah paham kepadamu. Tapi mengapa engkau sangat yakin bahwa aku tidak akan bertemu lagi dengan kedua adikku itu?

“Rupanya engkau tidak tahu. Aku ingin memastikan, ketika kalian memulai perjalanan, siapakah yang berada di depan”? tanya Karbon.

“Aku, diikuti oleh kedua adikku”, jawab photon.

“Wahai photon kecil, ketahuilah bahwa neutrino itu buta arah. Berjalan di depan mereka adalah kesalahan terbesarmu.”, ucap Karbon kepada photon. 

“Apa? Oh tidak.... pantas sebelum berangkat mereka berkata arah manapun tidak menjadi masalah..”

“Jadi engkau tidak perlu menunggu lagi. Lanjutkan saja perjalananmu.” Ucap Karbon. “Kami juga harus melanjutkan perjalanan. Ada konferensi yang diadakan kaum karbon di tepi inti matahari dengan topik peluang membentuk polimer hidrokarbon tak jenuh di dalam inti matahari. Sayangnya ini konferensi intenal, jadi engkau tidak dapat menghadirinya”.

“Terima kasih atas tawaran yang engkau berikan, wahai Tuan Karbon”.  Jawab photon. “Aku juga harus melaksanakan tugas besar yang telah diamanatkan oleh partikeltuaku”.

“Baiklah, kami pergi. Tidak boleh terlambat menghadiri acara. Semoga engkau berhasil menunaikan tugas besarmu tersebut”. Ucap Karbon. Mereka pun pergi. 

Tinggallah photon di sana separtikel diri.

Jumat, 07 Juli 2017

Little Photon:Journey to The Edge of Universe (Part 2)

Bagian 2: Journey Begin


Masih di lokasi yang sama di dalam inti matahari.

"Mari kita mulai perjalanan kita, adikku", berkata photon kepada neutrino. 

"Ya Kak.", jawab neutrino. "Kapanpun engkau siap", lanjutnya.

"Apakah engkau punya semacam petunjuk yang dapat kita gunakan untuk memulai perjalanan kita?", tanya photon.

"Tidak kak. informasi yang kami punya sama dengan informasi yang engkau punya.", neutrino merespon datar. "Mungkin sebaiknya kita mengamati kondisi sekitar dahulu, lalu memulai perjalanan kita ke arah yang dilalui paling banyak partikel".

Photon mengamati sekeliling. Dia melihat begitu banyak partikel-partikel berseliweran di hadapannya. Proton, elektron, helium, deuterium, photon berbagai frekuensi, semua membaur, bergerak secara bebas ke berbagai arah. Tidak terlihat adanya satu arah tertentu yang dilalui lebih banyak partikel dibandingkan arah yang lain.

"Aku tidak dapat menentukan satu arah dominan yang dilalui para partikel. Semua arah sama saja, tidak ada perbedaan.", ucap photon. "Mengamati lingkungan tidak banyak membantu kita", lanjutnya.

"Begitukah wahai kakak? kalau menurut kami justru hasil pengamatan mu memberikan kita informasi penting terkait perjalanan kita. Semua arah sama saja, jadi arah manapun yang kita pilih sebagai arah keberangkatan kita tidak akan menjadi masalah", tukas neutrino mantap.

"ya tentu saja. Kalian benar wahai adikku", photon menjadi lebih tenang setelah mendengar perkataan neutrino. 

"Baiklah, telah aku putuskan. Mari kita pilih arah yang berlawanan dengan arah kepergian partikeltua kita sebagai arah awal perjalanan kita. kalian setuju wahai neutrino adikku?"

"Ya kakak. Kami setuju dengan usulmu."

"Bagus. Dengan demikian telah diputuskan. Mari kita mulai perjalanan kita sekarang." Photon mengarahkan dirinya ke arah yang disepakati. "Sebagai kakak, aku akan berjalan di depan, dan kalian mengikutiku di belakang. Kita mulai secara lambat dulu saja sambil mengamati keadaan sekitar. Barangkali kita dapat memperoleh informasi tambahan".

"Ya kakak, kami di belakangmu.", respon neutrino mantap. 

"Baiklah. BERANGKAT..!!!!" 

Photon pun memulai perjalanannya.

"Oh ya, aku ingin menyampaikan pada kalian terkait... huuhhh??? neutrino adikku? kalian di mana???" 

Hanya sesaat setelah perjalanan dimulai, photon telah terpisah dari kedua adiknya.

Photon tidak menyadari bahwa dirinya merupakan partikel tercepat di alam semesta, dan dirinya tidak dapat mengurangi kecepatan gerak. Hanya perlu sesaat baginya untuk pergi jauh meninggalkan kedua neutrino, adiknya.

"TIIDAAAKKKKKK...!!!!!!!!!!"

Kamis, 06 Juli 2017

Little Photon: Journey to The Edge of Universe (Part 1)

Bagian 1: The Birth


Di suatu titik di dalam inti matahari.

“BUMMM...!!!” benturan yang sangat keras terjadi antara dua partikel deuterium. Benturan yang terjadi begitu dahsyat hingga bukannya hancur, kedua deuterium malah melebur menjadi satu. Di saat yang bersamaan, lahirlah photon.

“UUggh.... ini di mana? Ayah? Ibu?”

“Ya anakku” sahut sebutir partikel bermassa empat atom bernama helium yang tak lain adalah peleburan dua deuterium, orang tua photon.
Mendengar sahutan tersebut, Photon lalu menoleh ke arah kiri. Dilihatnya sesosok partikel yang berjarak hanya beberapa femtometer saja darinya. Dengan bersemangat photon berkata pada partikel tersebut. “Apakah engkau partikeltua ku?”

Sesaat kemudian partikel tersebut menjawab: “Bukan wahai photon. Aku adalah partikeltua photon lain, bukan dirimu. Engkau menoleh ke arah yang salah. Partikeltuamu yang sebenarnya tepat berjarak 23 femtometer pada arah 1890 dari arah propagasimu saat ini.

“Oh maafkan aku. Aku kira engkau adalah partikeltua ku”. Photon menjawab sopan, lalu memutar badan ke arah yang telah diberitahukan oleh partikel asing yang ramah tadi. Begitu pandangannya tepat mengarah ke arah yang dituju, apa yang dilihatnya membuatnya terkejut. Dilihatnya sesosok partikel yang sama persis dengan yang dia sangka partikeltuanya beberapa saat lalu. Dengan ragu-ragu photon pun bertanya pada partikel di hadapannya. “apakah engkau partikeltua ku? Tapi engkau sama persis dengan partikel yang kusangka sebagai partikeltua ku beberapa saat lalu. Sepertinya aku salah partikel lagi”.

“Tidak, wahai photon anakku. Akulah partikeltuamu. Engkau tidak salah partikel”, jawabnya secara cepat. “Semua partikeltua di sini, inti matahari, memang sebagian besar sama persis. Kami para partikeltua nyaris tidak memiliki perbedaan. Jadi wajar jika engkau tidak dapat langsung mengenaliku.” Lanjut helium.

Photon mengamati partikel helium di depannya. Tidak tampak perbedaan dari partikel yang sebelumnya dia ajak bicara.

“Dengarkan aku wahai anakku. Engkau terlahir untuk memikul yang sangat besar. Tanggung jawab yang tidak dapat aku, ataupun helium lain lakukan. Hanya engkau yang dapat melakukannya.”

“Tugas apa?”, tanya photon penuh rasa penasaran.

“Menerangi alam semesta”, jawab helium.

“Tapi untuk dapat melaksanakan tugas tersebut, engkau harus melewati ujian yang sangat berat. Engkau harus dapat melewati awan partikel yang sangat rapat dan tebal. Engkau akan dibuat tersesat.Dilempar ke sana – ke mari tanpa memiliki petunjuk arah yang jelas. Engkau juga harus melawan tarikan monster gravitasi dan itu jauh dari kata mudah. Engkau akan menghabiskan waktu yang sangat lama untuk mengatasi ujian ini. Namun jangan menyerah. Bersama teman-temanmu sesama photon, aku yakin engkau akan sanggup melewati ujian dan keluar dari tempat ini.”

“Apakah aku sanggup untuk melakukannya?aku baru saja terlahir beberapa yottadetik yang lalu, dan kini engkau mengatakan bahwa aku harus melewati ujian yang sangat berat. Aku tidak memiliki cukup pengalaman. Aku takut...”

“jangan takut wahai anakku”, ucap helium sambil menenangkan photon. Yakinlah pada dirimu sebagaimana kami yakin pada dirimu. Akan aku berikan dua teman pendamping untukmu. Sebut saja mereka neutrino”. Ucap helium sambil menggerak-gerakan tubuhnya. Tidak berselang lama, muncullah dua partikel mungil identik mendekati photon.

“Hai kakak. Kami adalah adikmu, neutrino. Kami akan mendampingi kakak keluar dari tempat ini.”

Photon mengamati kedua neutrino di hadapannya tersebut. “Hai neutrino adikku. Kita akan bersama-sama berpetualang menembus tebalnya awan partikel yang menghalangi kita menuju kebebasan. Kita akan saling berbagi suka dan duka perjalanan.”

Helium tersenyum, lantas berkata: “Segeralah kalian memulai perjalanan kalian. Aku sudah harus pergi meninggalkan kalian. Semoga kalian berhasil, dan aku yakin kalian pasti berhasil.”

“Kami siap, wahai partikeltua ku” jawab photon dan neutrino bersamaan.

Helium tersenyum, lalu berbalik arah dan pergi meninggalkan photon dan neutrino.

Petualangan photon bersama dua neutrino menuju ujung alam semesta pun dimulai.

Selasa, 04 Juli 2017

tes


Sisa Waktu 20m0s




Pada sebuah tongkat yang memiliki panjang L, bekerja empat buah gaya dengan arah dan titik kerja seperti diilustrasikan pada gambar. Diketahui besar gaya F1 adalah 10 N. Jika tongkat tidak berotasi, hitung besar ketiga gaya yang lain. Nyatakan jawaban dalam newton.


Masukkan jawaban pada kotak yang disediakan (nilainya saja)